PENGERTIAN FILSAFAT TIMUR
(Dosen, Prof. Dr. Konrad Kebung, Ph. D.)
1. TIMUR DAN BARAT
Filsafat Timur selalu dipadankan dengan filsafat Barat. Secara geografis atau topologis, filsafat Timur adalah filsafat berpikir yang pada umumnya berlaku atau dihidupi oleh orang-orang dari belahan Timur globe ini; bagaimana mereka melihat dan memahami realitas di sekitarnya. Sedangkan filsafat Barat pada umumnya berlaku dan dihidupi oleh orang-orang yang hidup di belahan dunia Barat, termasuk seluruh Eropa daratan, Asia Barat, dunia Anglo-Saxon (Inggris, Irlandia, Scotlandia, USA dan Canada). Dalam filsafat ini kita melihat pelbagai pandangan dan pemahaman orang-orang Barat tentang dunia dan realitas hidup mereka.
Kalau kita mau meneropong pandangan-pandangan atau pola berpikir dan pola tingkah-laku orang-orang di belahan dunia Timur maka kita juga akan menemukan pelbagai macam filsafat karena dunia Timur sendiri terdiri dari sekian banyak bangsa, negara, kelompok etnis, kebudayaan dan peradaban yang berbeda. Karena perbedaan-perbedaan dalam kebudayaan dan peradaban ini kita juga akan menemukan perbedaan dalam pelbagai sistem, nilai, ciri dan karakter, bahasa, kebiasaan dan tingkah laku. Ini amat jelas diperlihatkan dalam variasi cara pandang dan cara berpikir, penampilan dan sikap hidup serta motivasi hidup manusia dari pelbagai suku dan bangsa, demikian pula agama dan aliran-aliran kepercayaan yang berbeda.
2. MAKNA PERBEDAAN BARAT DAN TIMUR
Sebagai manusia, makhluk berpikir, kita semua adalah sama. Semua manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Semua manusia memiliki rasa harga diri yang sama. Namun perbedaan kita terletak pada pola pikir dan pola pandang kita terhadap dunia yang menurunkan pelbagai macam perbedaan lain baik yang secara transparan, yang dapat dilihat dan dibaca maupun secara tersembunyi dan tidak kelihatan.
Untuk dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang filsafat Timur maka baiklah dibuat pemetaan mengenai pelbagai soal yang dibahas dalam wilayah filsafat Timur. Dalam bahasan ini kita akan lebih memusatkan perhatian pada kebudayaan-kebudayaan besar yang diambil sebagai pusat peradaban dunia seperti Cina – India, Jepang, dan sebagainya. Peradaban Cina melahirkan paham-paham Budhisme yang sudah agak lebih berkembang karena pertemuannya dengan peradaban dan kebudayaan-kebudayaan setempat. Peradaban ini juga menurunkan aliran filsafat utama seperti Confucianisme dan Taoisme. Kebudayaan dan peradaban India melahirkan Hinduisme dan Budhisme pada tahap perdana. Dari peradaban seperti ini lahirlah banyak penemuan dalam dunia ilmu pengetahuan dan para pemikir serta pertapa-pertapa besar. Kebudayaan dan peradaban Jepang menampilkan Shintoisme dan Zen Budhisme serta kepercayaan-kepercayaan lain dalam persentuhan antara kebudayaan asli dengan perkembangan-perkembangan Budhisme.
Secara khusus kita juga akan melihat filsafat Nusantara yang membentang dari ujung Barat sampai ujung Timur kepulauan Nusantara ini. Kita melihat bagaimana orang-orang Indonesia dengan variasi kebudayaan dan peradaban memandang dan memahami realitas hidupnya; bagaimana dia hidup dan memandang kosmos, diri dan sesamanya manusia, dan Tuhan atau Wujud Tertinggi yang dianggapnya sebagai Yang Mutlak. Bagaimana pola sikap dan tingkah hidup yang dibentuk berdasarkan pandangan mereka tentang realitas hidup mereka.
3. PERBEDAAN FAHAM BARAT DAN TIMUR
Untuk dapat melihat perbedaan-perbedaan antara manusia-manusia Barat dan Timur kita perlu mengenal ciri-ciri utama dari masing-masingnya.
• Belahan dunia Timur terdiri dari banyak negara yang memiliki jumlah penduduk yang sangat besar sejalan dengan angka kelahiran yang masih tinggi di banyak negara. Banyak penduduknya masih diklasifikasi sebagai kaum miskin dan masih hidup di bawah taraf manusiawi. Sejalan dengan kepadatan penduduk dan kemiskinan kita masih dapat menemukan pelbagai gejala lemah lainnya sebagai turunan dari ciri pokok di atas.
• Berbeda dengan manusia Barat yang lebih aktip, manusia Timur lebih bersikap pasip. Ini dapat dicerna dalam ajaran-ajaran pokok misalnya penghormataan terhadap kosmos, alam semesta, Konfucianisme, Taoisme, Buddhisme, dll.
• Di dunia Timur penekanan utama lebih diberikan kepada karya intuisi dan perasaan (mempertemukan akal budi dengan intuisi, inteligensia dengan perasaan), juga penekanan lebih pada hidup batiniah, spiritual dan mistis. Atas dasar ini tujuan belajar bagi orang Timur adalah lebih untuk mencapai kebijaksanaan dan kebaikan hidup (harmoni dengan kosmos) daripada penyebaran pengetahuan dan informasi, sebagai akibat dari penekanan pada akal budi dan karya intelek sebagaimana di dunia Barat. Penekanan hanya pada akal budi di dunia Barat menjadi dasar penguasaan manusia atas alam dunia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, kapitalisme, penemuan-penemuan dunia baru dan imperialisme. Pengetahuan dan informasi sungguh mendapat perhatian dan penyebarannya pun mendapat tempat utama.
• Di dunia Barat alam dunia dilihat sebagai objek dan lapangan kerja, dan manusia harus menguasainya demi kepentingannya sendiri. Di dunia Timur, manusia dilihat sebagai bagian utuh dari alam dan oleh karena itu penekanan lebih diberikan kepada etika harmoni dalam hidup setiap orang. Dengan kata lain kalau di dunia Barat orang lebih berpegang pada prinsip “berbuat lebih penting daripada sekadar hadir dan ada” (to do is more important than to be), di dunia Timur orang lebih mengutamakan “ada dan kehadiran daripada apa yang seseorang perbuat” (to be is more important than to do). Karena itu orang Timur kurang suka adanya pertentangan, konflik dan kompetisi; tidak biasa masuk dalam konflik frontal dengan orang lain dan pelbagai sikap dan kesulitan atau keuntungan psikologis lain yang berakar dari sini.
4. FILSAFAT BERPIKIR ORANG TIMUR
“Berpikir” dalam arti aktip berarti mengonfrontasikan diri dengan dunia di luar diri kita. Oleh karena itu filsafat berpikir orang Timur haruslah dilihat dalam jalur bagaimana orang-orang Timur melihat alam dunianya; bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri dan sesama dan bagaimana mereka melihat dan percaya serta menggantungkan seluruh diri mereka pada suatu wujud ilahi yang dianggap menjadi pencipta atau pendasar dan penyelenggara segala sesuatu.. Dari perspektif ini alam filsafat Timur itu bersifat sangat human dan religius. Paham-paham religius kosmis sungguh menguasai seluruh tata kehidupan seorang Timur. Karena itu pendekatan emosional-spiritual jauh lebih kuat dibandingkan dengan pendekatan rasional-teoretis seperti di dunia Barat. Justru di dunia Timur paham-paham kosmis dan kosmogonis amat kuat berikut paham-paham religius seperti apa yang kita temukan dalam Hinduisme, Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme, agama-agama arkhais, aliran kebatinan, dan lain-lain.
BAB II
FILSAFAT TIMUR DAN PANDANGAN KOSMIS
Filsafat timur dapat dibagi berdasarkan dua pola pendekatan atau perspektif sebagai berikut:
1. Pendekatan topografis atau geografis: filsafat timur adalah filsafat berpikir manusia di belahan dunia timur dan Selatan (Tenggara), juga bagian timur –laut seperti Jepang, Korea, Tiongkok dan Negara-negara sekitarnya.
2. Pendekatan filosofis atau pandangan hidup: filsafat timur mencakupi wilayah topografis di atas dengan pelbagai macam latar socio-kultural, politis dan linguistic yang dianut oleh manusia-manusia di wilayah itu: bagaimana cara mereka berpikir dan menilai dunia dan hidup mereka.
Kalau kita berbicara mengenai filsafat timur, kita sebenarnya lebih meneropong cara berpikir orang timur dari segi ilmu filsafat. Karena itu di sini kita harus berbicara secara ilmiah tentang cara hidup dan berpikir orang-orang timur pada umumnya: bagaimana mereka berpikir dan bertindak. Di sini kita tidak berbicara mengenai kosmos dalam arti bumi, tempat kita tinggal secara ilmiah sebagaimana dibicarakan dalam Kosmologi. Pandangan hidup atau filsafat hidup adalah cara hidup orang timur dalam kaitan dengan bagaimana mereka melihat dunia, diri dan sesamanya, juga bagaimana mereka mengalami “Allah” atau apa yang mereka akui sebagai Wujud Tertinggi atau ilahi.
PAHAM TENTANG KOSMOS
Sebagaimana sudah dikatakan di atas, filsafat berpikir orang-orang timur pada umumnya bersifat amat religius, kosmis, mitis-magis, etis dan moral. Pengikat utama dari semua paham ini adalah pandangan mereka mengenai kosmos atau alam dunia. Kosmos yang berarti dunia, adalah sesuatu yang tercipta dan terberi dari suatu wujud ilahi. Dan karena itu kosmos ini selalu dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat ilahi dengan pelbagai macam nilai ultim yang ada di dalam dirinya, terutama mengenai tata dunia dan semua manusia yang hidup di dalamnya. Kosmos, karena itu bersifat suci, kudus dan ilahi dan karena itu kerap dipersonifikasi sebagai wujud yang mengatasi kuasa-kuasa manusiawi dan insani, yang memiliki indra manusiawi dan atas-manusiawi dan kepadanuya manusia harus menyesuaikan diri, memberikan hormat dan sembah.
Tuntutan-tuntutan dasar harmoni kosmis ini bersifat amat religius dan ini harus dibuktikan dalam sikap moral-etis manusia; bagaimana sikap mereka yang benar dan baik atau tingkah mereka terhadap diri dan orang lain, terhadap alam dunia dan terhadap keyakinannya akan apa yang ia sebut sebagai wujud tertinggi. Harmoni kosmis dalam hubungan dengan diri sendiri harus dilihat lewat cara hidup dan penghargaan terhadap diri sendiri, perhatian terhadap diri dan semua unsur normatif untuk pembentukan diri. Dalam kaitan dengan relasi dengan alam dunia, harmoni kosmis ini musti diperlihatkan lewat sikap mencintai lingkungan dunia, keteraturan alamiah, mencintai hidup dan bukannya kematian, melestarikan dan menjadikan dunia ini lebih indah dan apa adanya. Harmoni kosmis dengan dunia lingkungan harus juga terungkap lewat sikap tidak menjadikan bumi ini tandus dan tidak membawa keuntungan dan kebaikan bagi manusia, tidak membasmi hutan sesuka hati. Mereka beranggapan bahwa roh-roh sebagai wujud tidak kelihatan dari yang ilahi ini juga memerlukan suatu daerah yang tenang, aman dan tidak diganggu. Harmoni kosmis dalam kaitan dengan alam dunia ini juga nyata dalam sikap positif terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagai misal kaum Yainisme di India harus membawa tikar ke mana saja mereka pergi dan sebelum membentangkan tikar mereka, semua jenis binatang atau tumbuhan di bawahnya harus dihindarkan dulu agar mereka tidak menjadi korban, Demikian pula banyak orang timur tidak suka memakan daging hewan atau sayuran karena terlalu menghormati daya dan kekuatan kosmis ini.
Harmoni kosmis dalam kaitan dengan wujud ilahi harus mereka buktikan lewat sikap religius dan sembah mereka melalui ritus-ritus yang dilihat sebagai cara berhubungan dengan yang ilahi. Ada pelbagai ritus dibuat entah itu ritus mendamaikan hubungan dengan yang ilahi, menghindarkan bala atau bencana, ritus kutukan terhadap orang yang hidup tidak baik, ritus meminta bantuan dan dukungan yang ilahi dalam peperangan, dan pelbagai macam ritus lainnya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Di sana Yang Ilahi dilihat sungguh secara amat anthropomorfistis; bahwa dia adalah Bapak yang melihat segala sesuatu yang terjadi dalam dunia manusiawi, dia bisa memberi hukuman bagi yang bersalah tetapi sekaligus ganjaran bagi yang berbuat baik. Ia dapat melihat sesuatu yang rahasia atau yang tersembunyi dalam manusia dan bisa menentukan nasib orang. Dalam kaitan dengan ini orang berbicara mengenai siksaan dan kutukan atau juga malapetaka bagi yang berbuat buruk dan berkat bagi yang berbuat baik.
Kosmos ini dilihat sebagai pusat dunia dan menjadi dasar hidup setiap orang arkais di dunia Timur. Semua perbuatan jahat atau dosa dan kebaikan diukur berdasarkan harmoni kosmis ini. Kosmos ini juga dilihat sebagai yang akan menuntun orang jahat menjadi orang benar dan baik, dan ia bisa menjatuhkan hukuman juga kepada orang yang melakukan kesalahan atau kejahatan terhadap manusia atau makhluk lain di bumi ini. Justru dalam hubungan dengan ini orang kerap berbicara tentang atau percaya akan hukum karma. Semua perbuatan kita pasti ada ganjarannya. Yang berbuat tidak benar pasti suatu ketika akan menerima ganjarannya (karma) dan yang berbuat baik akan memperoleh pahala lewat sukses hidup atau kebahagiaan dalam hidup ini.
Paham asli seperti ini semakin pudar dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era modernisasi dan globalisasi ini. Pembangunan mental dan fisik manusia menuntut terlalu banyak hal dari bumi kita dan secara psikologis juga menyerap banyak energi dan daya psikis kita. Kini banyak orang berkeluh tentang pengotoran udara atau polusi di kota-kota besar wilayah Timur globe ini. Orang sudah semakin dirasuki materialisme, individualisme dan konsumerisme. Pandangan tentang dunia dan manusia yang begitu religius pada masa lalu pelan-pelan dibalikkan dan yang semakin menonjol ialah usaha mengejar kemajuan di pelbagai bidang dan semua nilai dan kekayaan arkhais semakin tidak penting. Paham-paham tentang nilai religius dan yang ilahi semakin tidak relevan dalam hidup orang-orang Timur pada zaman ini. Pengembangan etis-religius dan kosmis pelan-pelan dikikis oleh kemajuan-kemajuan dalam pelbagai aspek kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar